Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Kita Tidak Berbakat. Bener atau Tidak?

Written By Wawan Setiawan on Monday, March 18, 2013 | 7:53 AM

Monday, March 18, 2013

Kita Tidak Berbakat. Bener atau Tidak?
Kita Tidak Berbakat. Bener atau Tidak?
"Sebenarnya kita bisa melakukan apapun asalkan kita punya semangat, antusias, dan tak pernah menyerah."

Mungkin kelihatan konyol, sulit dipercaya, tidak masuk akal, atau pun menyalahi kodrat bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan keahlian masing-masing. Manusia dilahirkan dengan bakat atau genetik masing-masing yang sudah Tuhan anugerahkan sebelum lahir. Tapi jauh di lubuk hati terdalam saya masih tidak sependapat dengan hal tersebut, bakat itu memang ada namun bukan hanya itu yang mempengaruhi pencapaian manusia-manusia hebat di dunia ini.

Anda boleh saja mengkritik kalau perlu abaikan saja, namun saya tetap pada pendirian bahwa "manusia bisa melakukan apapun jika saja ia punya semangat dan motivasi yang besar untuk mencapai tujuan tidak terbatas pada bakat yang dibawanya sejak lahir."

Mungkin saya adalah salah satu orang atau beberapa orang di dunia ini yang percaya dengan hal tersebut. Tapi bukan berarti saya orang yang bisa segala-galanya. Lho kenapa, katanya anda manusia yang bisa melakukan apapun? Iya, saya bisa melakukan apa pun yang saya yakini itu bisa. Dan saya akan bisa dan pasti bisa.

Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan klub sepakbola Brazil. Semua orang pasti tahu itu, bahkan tidak sedikit yang ketika mendengar kata Brazil selalu dikaitkan dengan sepakbola. Betul sekali, Brazil memang salah satu negara pencetak bintang-bintang kelas dunia, sebut saja dari eranya Pele, Romario, Ronaldinho, Ronaldo, Kaka, dan akhir-akhir ini nama Neymar sedang banyak di bicarakan di media.

Melihat fakta tersebut apakah menurut anda kesemua pemain hebat di atas tadi karena faktor genetik yang diturunkan dari keluarganya? Atau barangkali karena Brazil memang negara sepakbola. Sepertinya iya. Kecuali jika kita lebih detil memperhatikan sejarah. Tahukah Anda, negara Brasil mulai diperhitungkan dalam dunia sepak bola itu sejak tahun 1950. Sebelumnya, penguasa sepak bola bukanlah Brasil, bahkan negara ini tidak masuk hitungan.

Pertanyaannya adalah kenapa sekarang Brazil menjadi negara yang sangat diperhitungkan di dunia sepakbola?

Ada sebuah metode latihan khusus yang diterapkan di Brasil sehingga menghasilkan para pemain “berbakat”. Atau ada cara tertentu yang menjadikan orang-orang bisa berbakat. Atau yang menurut saya paling berpengaruh adalah "mental". Semua penduduk Brazil percaya bahwa mereka berbakat dan memiliki keahlian hebat dalam sepakbola sehingga mereka pun jadi hebat.

Di zaman yang serba modern ini ada sebuah metode yang bisa mengukur bakat seseorang yaitu STIFIn Finger-Print . Apabila mengikuti sidik jari tentang bakat yang di arahkan maka mereka bisa sukses. Namun pertanyaannya adalah banyak juga yang belum mengetahui sidik jari bakat mereka.

Saya yakin sebagus apa pun bakat seseorang apabila tidak pernah dilatih maka apa artinya bakat tersebut sebaliknya mereka yang tak pernah berbakat sekali pun apabila punya semangat, minat yang besar dan latihan yang tekun maka suatu saat ia akan mampu menguasainya.

Jadi sekarang, anda tidak usah berpikir berbakat atau tidak berbakat. Tetap semangat, cintai apa yang anda lakukan, berusaha dengan keras dan jangan menyerah. Saya yakin suatu saat akan berhasil. Berikan mental positif kepada diri anda. Ucapan "Saya tidak berbakat" akan menjadi boomerang bagi diri anda sendiri yang bakal mematikan semangat anda.
Rating: 5 Reviewer:Wawan Setiawan - ItemReviewed: Kita Tidak Berbakat. Bener atau Tidak?
Read More | comments (5)

Aku Tidak Sreg, Benarkah?

Written By Wawan Setiawan on Thursday, March 7, 2013 | 9:32 AM

Thursday, March 7, 2013

Aku Tidak Sreg, Benarkah?
Aku Tidak Sreg, Benarkah?
Lihat percakapan berikut ini?

Ivan : "Van, mau ga kita berbisnis internet marketing? Kebetulan kamu kan sedang nganggur terus."
Ali : "Ahh, apaan si, bisnis apaan itu? Milih bisnis yang jelas-jelas aja kali. Itu mah bisnis dunia maya gak jelas."
Ivan : "Tapi kalau ditekuni hasilnya bakal luar biasa lho li, kamu berminat ga?"
Ali : "Aku tidak sreg sama bisnis itu van, aku mau yang biasa-biasa aja."
Ivan : "Maksudnya yang biasa-biasa gimana?"
Ali : "Ya, kaya dagang gitu."
Ivan : "Ohh, ya udah tak apa-apa kalo gak berminat"
Ali : "Iya van, aku ngak tahu internet marketing sama sekali."
Ivan : "Semua orang juga awalnya tidak tau kali li? Daripada nganggur terus?"
Ali : "Iya sihh.. hehe tapi aku kurang sreg aja van."
Ivan : "Oh ya udah ndak apa-apa.."

Coba deh lihat kalimat yang dicetak tebal di atas. "Tidak Sreg" katanya. Saat Anda menyarankan sesuatu kepada seseorang, kemudian dia mengatakan “tidak sreg”, Anda mau apa lagi? Tidak sreg menjadi sebuah alat untuk menolak ide, gagasan, dan inspirasi apapun. Dan setelah mengatakan tidak sreg, tidak ada lagi argumen yang bisa diajukan. Artinya menolak, titik!

Coba kalau ditanya, kenapa tidak sreg. Sering kali jawabannya:

“Ya nggak tau, pokoknya tidak sreg aja.”

Artinya seseorang yang mengatakan tidak sreg seringkali menutup diri untuk saran tersebut. Bisa juga diartikan “saya tidak mau, titik!”.

Tidak sreg itu sebenarnya suatu hal yang wajar sobat. Manusia memang memiliki ketertarikan yang berebeda-beda terlepas dari ada yang kita suka dan juga ada yang tidak kita sukai. Namun justru inilah yang menjadikan alasan mereka menolak ide-ide atau gagasan yang masuk. Mereka akan dengan mudah mengatakan tidak sreg dengan maksud menutup diri sehingga akan menjadi mental block bagi diri kita sendiri.

Alasan mengatakan "Aku tidak sreg"

1. Tidak mau keluar dari zona nyaman
Seringkali ketika ada seseorang yang menawarkan sebuah ide-ide luar biasa kepada anda, anda menolaknya karena hal itu bertolak belakang dengan zona nyaman anda atau dengan kata lain anda tidak mau keluar dari zona nyaman padahal itu sangat baik dan kadang sebuah keharusan untuk bisa berhasil. Untuk itulah mereka mengatakan, "aku tidak sreg" karena sebenarnya dia tidak mau keluar dari zona nyaman yang akhirnya malah meninabobokan diri sendiri.

2. Kurang Pengetahuan
Perkataan "aku tidak sreg" juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang sesuatu. Seperti yang dikatakan Ali dalam percakapan di atas. Dia lebih memilih bisnis biasa atau dagang dengan alasan lebih nyata, ya tidak apa-apa. Tapi, jika saja dia tahu bahwa prospek bisnis online itu sangat besar dan lebih mudah karena tidak terbatas waktu dan tempat dan juga jumlah konsumen yang tidak terbatas pula. Dia tidak akan pernah berkata "aku tidak sreg".

Perkataan aku tidak sreg juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan. Jadi ketika ada seseorang yang menawarkan ide kepada anda, cobalah buka dulu pikiran anda, carilah pengetahuan tentang hal tersebut. Anda tidak akan pernah tahu sebelum anda mencari tahu.

3.  Karena Malas
Ada kalanya ketika seseorang menjelaskan panjang lebar tentang sebuah ide, tetap saja dia tidak mau tahu dan mengatakan "aku tidak sreg". Seperti yang di ucapkan Ali pada percakapan di atas. "Iya sihh.. hehe tapi aku kurang sreg aja van.". Itu menunjukan bahwa sebenarnya si Ali memang malas.

Kesimpulan
Jangan sampai hidup Anda dikuasai oleh “tidak sreg”. Anda tidak akan pernah berkembang, sebab apa pun nasihatnya jawabannya “tidak sreg”. Mulai sekarang, saat dalam hati mengatakan tidak sreg, cobalah evaluasi apakah benar tidak sreg atau karena 3 penyebab diatas.
Rating: 5 Reviewer:Wawan Setiawan - ItemReviewed: Aku Tidak Sreg, Benarkah?
Read More | comments (4)

Cerita Dua Ekor Katak dalam Bejana

Written By Wawan Setiawan on Monday, February 11, 2013 | 9:11 PM

Monday, February 11, 2013

Diceritakan ada dua ekor katak yang sedang terapung dalam bejana yang berisi air susu. Mereka berdua terdiri dari katak hijau dan katak biru. Keduanya sedang berjuang keluar dari bejana berisi susu, beberapa kali mereka mendayung dan meloncat walau kelihatannya semua itu hanya sia-sia.

Katak biru berkata pada katak hijau, "wahai kawanku, sampai kapan kita terus meloncat dan mendayung? Saya sudah sangat letih sekali." Kemudian berkatalah katak hijau, "teruslah mendayung sahabatku, sekitar beberapa jam lagi akan ada seseorang yang mengeluarkan kita dari bejana ini".

Sejam berlalu namun belum terlihat seseorang pun yang datang menghampirr keduanya, "wahai sahabat, aku letih sekali. ingin rasanya ku tenggelam saja." katak biru berkata dengan pesimis. "Bersabarlah sekitar 2 jam lagi, pasti kita bisa keluar dari tempat ini" katak hijau memberikan nasihat.

Dua jam berlalu belum ada tanda-tanda akan ada seseorang yang datang menolong. Sementara katak hijau terus berjuang dengan penuh semangat, meloncat dan terus mendayung. Di lain hal, katak biru malah terlihat lemas tak ada gairah.

"Wahai sahabat, semangatlah kita bisa keluar dari tempat ini" katak hijau berkata. "Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi sobat. Aku akan memilih untuk tenggelam saja, aku yakin kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini" katak biru berkata dengan sangat pesimisnya. "Tidak, jangan begitu ayolah terus berjuang. Kita pasti bisa keluar dari tempat ini." katak hijau memberi nasihat.

Tanpa semangat yang berarti, akhirnya katak birupun memilih untuk tenggelam. Dan ia mati di telan bejana susu sementara katak hijau terus berjuang penuh semangat. Satu.dua.tiga jam berlalu dengan semangat tinggi katak hijau tersebut terus meloncat dan mendayung. Sampai akhirnya ia merasakan ada sesuatu yang memadat. Rupa-rupanya air susu tersebut berubah menjadi mentega. Katak hijau pun bisa keluar dengan selamat.

"Jangan pernah berhenti melangkah. Yakinlah akan ada titik terang bagi mereka yang pantang menyerah. Teruslah kobarkan semangat, hilangkan rasa pesimis dan putus asa. Pertolongan pasti akan datang ketika kita sudah tak mampu lagi berbuat."

Salam sukses.
Rating: 5 Reviewer:Wawan Setiawan - ItemReviewed: Cerita Dua Ekor Katak dalam Bejana
Read More | comments (1)

Seperti Apa kita dimata orang lain?

Written By Wawan Setiawan on Saturday, February 9, 2013 | 11:51 PM

Saturday, February 9, 2013

Seperti Apa kita dimata orang lain?
Alkisah seorang bocah duduk termenung dalam lamunan di bawah rindangnya pohon cemara. Tentang sebuah masa depan, anak kecil itu sedang berpikir tentang seperti apakah dirinya 10 tahun yang akan datang, atau 20 tahun lagi, 30, 40,50, bahkan 100 tahun yang akan datang.

Pernah terlintas dalam sebuah artikel di sebuah surat kabar yang sering memunculkan nama-nama seperti Kartini, presiden Soekarno, Bung Hatta, dan sebagainya. Dalam benaknya, nama yang sangat lestari tersebut selalu tertata kuat dalam setiap hati warga Indonesia. Ya tentu karena jasa-jasa yang telah mereka berikan bagi negeri ini. Sekali lagi, ia bertanya kepada diri sendiri, "Akankah aku seperti mereka?"

Bak sebuah api yang kena hembusan udara kencang, begitu pun dengan dirinya. Sempat juga membayangkan tentang suatu saat nanti ketika tubuhnya terbujur kaku dalam bungkusan kain kafan, bahkan sudah berada dalam liang lahat. Apa yang akan orang lain katakan tentang dirinya? Masih adakah orang yang mengingat namanya? Atau justru dalam beberapa bulan saja mereka sudah melupakan namaku?

"Apakah ada daftar nama seperti yang aku baca dalam surat kabar?" Sepertinya semua belum terlambat. Suatu saat aku harus bisa memberikan manfaat kepada orang banyak seperti Bung karno, buing hatta atau juga ibu kartini. "Aku tak mau menjadi sampah." tegasnya.

What about you??

Ketika Alfred Nobel merenung dan mengubah tindakannya. Sejak hari itu ia melakukan banyak hal dalam bidang perdamaian. Namanya adalah Alfred Nobel dan kita mengenangnya hari ini dalam sebuah “monumen abadi” bernama Hadiah Nobel. mungkin kita juga bisa melakukan hal serupa. Pikirkanlah.

Apa yang akan kita wariskan kepada generasi penerus kita?
Seperti apa kita ingin dikenang?
Apakah orang-orang akan berkata hal-hal yang baik tentang kita?
Apakah orang-orang akan mengenang kita dengan cinta dan rasa hormat?
Renungkanlah, lalu ambil tindakan untuk mewujudkannyaRating: 5 Reviewer:Wawan Setiawan - ItemReviewed: Seperti Apa kita dimata orang lain?
Read More | comments (2)

Doa Persembahan untuk Tuhan

Written By Wawan Setiawan on Friday, February 1, 2013 | 9:11 AM

Friday, February 1, 2013

Jaman yang semakin canggih, dulu ke tanah suci harus benar-benar berjuang, melewati badai dan ombak besar kini cuma hitungan jam bisa sampai ke tempat tujuan tanpa kendala yang berarti. Woww teknologi sekarang memang sudah luar biasa.

Manusia pun merasa dirinya bangga sebagai penguasa jagat raya karena prestasi nan luar biasa dari terbang ke angkasa sambai menambus hingga ke bulan. Namun sadarkah siapa yang benar-benar berkuasa di dunia ini? Sudah lupakah kita akan dzat yang Maha Agung dan Maha Kuasa?

Entah apa aku pun tak tahu, kebaikan Tuhan kepada manusia sungguh tak ada duanya. Walau pun hamba-hambanya lalai, selalu berbuat dosa, bahkan tidak ingat akan keberadaannya sekalipun (Astagfirullah) Dia selalu memberi nikmat tak ada duanya di dunia ini. Dia benar-benar seorang yang adil, tak peduli apakah manusia itu baik atau tidak, Dia selalu memberikan nikmat.

Namun apa sesungguhnya yang setiap hari benar-benar kita persembahkan padanya? Jika saja Tuhan punya sebuah email atau bisa dikirimi surat mungkin kita setiap menit bahkan setiap detik tiada kata-kata yang kita terima selain kata maaf karena dosa yang selalu kita lakukan, "Oh Tuhan, maafkanlah semua dosa dan khilaf yang telah ku perbuat"

Lagi-lagi dosa,dosa, dan dosa. Apa yang sebenarnya manusia miliki adalah dosa. Maka itu pulalah yang sering dipersembahkan oleh manusia setiap hari.

Memiliki dosa adalah sebuah keniscayaan, tapi pengakuan terhadap dosa itulah yang harus benar-benar manusia sadari.

Ketika diri ini sudah tidak mengakui akan dosa maka tak ada hal yang selalu dilakukan setiap hari kecuali dosa. Mengakui dan menyadari dosa juga berarti merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan. Ya mari kita akui saja.

Jika engkau tahu betapa banyaknya dosa yang kau sendiri mungkin menyadarinya. Sebesar apa? Bukit? Gunung? atau seluas samudera? atau mungkin bahkan tak bisa terhitung bak butiran pasir yang ada di gurun sahara. Sebesar itukah dosa kita.

Sekarang mari sejenak tutup mata kita dan sadarilah betapa banyak dosa yang kita perbuat. Lihatlah betapa banyak orang yang masih saja tidak benar-benar mengakui kesalahannya. Coabalah lihat mereka-mereka yang berkicau ria di pengadilan sana. Mereka yang tak pernah sadar akan kesalahannya, mereka yang selalu menumpuk dosanya.

Katakan pada Tuhan hari ini, “Tuhan, tidak ada yang kupersembahkan untukMu hari ini kecuali seluruh dosaku. Semoga segala kebaikan bisa sedikit menghapus setumpuk dosaku."
Rating: 5 Reviewer:Wawan Setiawan - ItemReviewed: Doa Persembahan untuk Tuhan
Read More | comments

About Me

My photo
Subang, Jawa Barat, Indonesia
 
Copyright © 2011. Sang Pemenang . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website